Liburan Murah nan eksotik ke Papandayan


Naik gunung ibarat sudah menjadi candu bagi kami, meskipun terasa berat dan cape tapi ada suatu makna yang syarat akan nilai-nilai kehidupan pun nilai Ilahiyah yang terdapat dalam setiap perjalan.
Maka setelah minggu lalu muncak ke Guntur, agenda kami selanjutnya adalah Papandayan. Papandayan adalah salah satu gunung merapi aktif di Garut yang terakhir kali meletus sekitar tahun 2002 lalu, bekas letusannya masih dapat kita jumpai berupa kawasan kawah belerang. Gunung Papandayan teletak di Kecamatan Cisurupan Kab. Garut.
Dari Garut Kota kita bisa melihat ke arah barat laut, tepat sebelah kiri Gunung Guntur disana terpampang jelas kawah Papandayan berwarna kuning keemasan yang terkadang masih mengeluarkan asap.
Setelah melakukan lobi-lobi dengan anggota Mavia yang lain maka disepakatilah hari Sabtu,  8 Maret 2014 untuk melakukan perjalanan ke Papandayan dengan gaya tik tok (pulang pergi tanpa camping). Alhamdulillah anggota yang ikut bertambah banyak menjadi 8 orang. Selain saya, Jukut, Erik, Rifki, Dede, Jafar, Kang Helmi dan Rofiqoh menjadi peserta perempuan satu-satunya.
Seperti biasa, saya adalah satu-satunya peserta yang berangkat langsung dari Bandung. Maka jam 4 subuh prepare sudah dilakukan nyiapin logistik, solat subuh dan sarapan.
Jam 5.30 adalah waktu yang ideal utk berangkat, motor kesayanganpun senantiasa menemani dalam setiap perjalanan. Tak seperti biasa, kondisi jalanan Bandung-Garut pagi ini macet sangat hingga jam 7.15 baru nyampe tempat meeting point, yaitu di Babancong alun-alun Garut.
Setelah menunggu teman beberapa lama tepatnya jam 08.00 barulah terkumpul semua personil. Setelah diambil kesepakatan mengingat sekarang adalah musim penghujan akan sangat berbahaya jika memaksakan menuju Camp David (Pos pertama yang merupakan tempat pendataran dan parkir kendaraan) dengan menggunakan motor.
Perjalanan ke Cisurupan memakan waktu + 15 menitan, kebetulan kang Helmi merupakan orkamso (orang kampung sono) yang juga menjadi guru di SMA Cisurupan, berdekatan dengan alun-alun Cisurupan kami menitipkan motor disana, dan setelah nego dengan emang-emang supir pick up, kami sepakat dengan harga 250 rebu PP, cukup murah jika dibagi 8 orang kan? Jatuhnya sekitar 30 rebuan perorang.
8.30 Perjalanan menggunakan mobil pick up dimulai melewati beberapa perkampungan warga, setengah jam berlalu akhirnya kami tiba d camp David. Setelah persiapan beres, berdo’a menjadi suatu kewajiban bagi sebelum memulai pendakian.
9.30 pendakian dimulai dengan melewati jalan lebar berbatu, setelah keluar dari jalanan berbatu bau belerang menyengat mulai terasa menusuk hidung kami, beruntung syal dan masker sudah kami persiapkan untuk menetralisir udara yang terhirup. Disini kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa, kami berjalan menanjak menyusuri kawah belerang bekas letusan Papandayan, serasa berada di dunia lain bagi kami.


Setelah berjalan selama satu jam, dengan di selingi beberapa kali isirahat untuk mengambil nafas, kami sampai di kawah Papandayan. Sejenak merenung mentafakuri keindahan dan kebesaran Yang Maha Kuasa.
Perjalanan masih panjang, kami lanjutkan dengan diawalai jalan menurun dan mendatar di bawah tebing, menyusuri jalan berbatu yang lebar, warga sini ada yang membuka lapak-lapak warung, bahkan mereka menggunakan motor trail melewati kami.


Papandayan menawarkan pemandang eksotik sepanjang perjalanan, perjalanan dari kawah ke Pondok Saladah selama 2 jam kami nikmati dengan mengagumi keindahan alam di pinggiran Garut ini.



   


Waktu menunjukkan 12.30 ketika kita sampai di Camp Ground yang bernama Pondok Saladah. Entah kenapa tempat ini dinamakan dengan Pondok Saladah, mungkin duku disini banyak terdapat saladah (sejenis nama tumbuhan yang biasa digunakan sebagai sayuran/lalapan).



Sampai disini kami buka lapak, utk istirahat dan makan.
Bekal yang kami bawa dibuka bareng2, makan gaya kaum proletar gitu.....


Setelah kenyang makan siang, ternyata hujan mulai turun, disinilah mulai terjadi adu argumen dianatar kelompok, sebagian ingin melanjutkan ke tegal alun dengan resiko hujan-hujanan, tetapi seorang anggota yaitu Rifki gamau ambil resiko, maka kita ambil jalan tengah yaitu dengan tetap melanjutkan perjalanan, sedangkan Rifki kami titipkan ke pendaki lain yang membuka tenda di Pondok Saladah ini.
Maka dengan menyusuri gemericik hujan, perjalanan dilanjutkan bertujuh saja. Setelah 15 menit berjalan, kami tiba disebuah  tempat yang memberikan nuansa lain, yaitu hutan mati.


Hutan mati merupakan kawasan hutan bakau yang tak berdaun dan dahannya menghitam seperti bekas terbakar, mungkin terbakar ketika terjadi letusan yang terjadi di Gunung Papandayan.
Setelah puas berfoto-foto ria perjalanan dilanjutkan kembali, 40 menit kemudian sampailah di tempat terindah di Gunung Papandayan.
Tegal Alun

Disini merupakan spot terakhir bagi kami, d Tegal Alun ini merupakan hamparan padang edelweis yang sangat luas, hingga kemanapun mata memandang yang ada hanyalah sang bunga abadi.
 Disini juga kami bertemu dengan dua orang teman dari garut.

Waktu sudah menunjukkan sore hari. Maka kamipun turun ke Pondok Saladah untuk menjemput teman kami yang tadi menunggu disana, setelah bertemu kami lanjutkan perjalanan.
Tak disangka, mungkin karena hujan yang turun begitu deras hingga sungai berbatu yang tadi kami lewati berubah menjadi sungai dengan aliran air ang sangat deras, tentu saja ini memaksa kami untuk berbahu-bahu bersama dengan para pendaki lainnya untuk membuat jembatan penyebrangan agar para penebrang tidak terbawa arus air sungai yang sangat deras. Para anggota lelaki saling berpegangan dari sisi satu ke sisi sebrang sungai untuk membantu penyebrang melewati sungai. Dan satu persatu kamipun menyebrangkan anggota yang lain.
Jam 17.30 kami telah tiba d Camp David, dilanjut dengan Isho. Setelah beres kami menaiki pick up yang tadi telah kami sewa sebelumnya.
Setelah tiba dibawah, istirahat bentar dan ba’da magrib Bandung pun sudah menannti.

Berikut agenda Hiking ke Papandayan dari Bandung:
Sabtu, 8 Maret 2014
04.00 – 05.00  Prepare
05.00 – 07.15  Perjalanan Bandung-Garut pake motor
07.15 – 08.00  Meeting point di Alun-alun Garut
08.00 – 08.30  Perjalanan menuju Cisurupan
08.30 – 09.00 Perjalanan menuju Camp David menggunakan pick up
09.00 – 09.30  Setelah berdo’a, start pendakian
09.30 – 10.30  Perjalanan menuju kawah Papandayan
10.30 – 12.30  Perjalanan menuju Camp Ground (Pondok Saladah)
12.30 – 13.00  Ishoma
13.00 – 14.00  Perjalanan menuju Tegal Alun
14.00 – 15.00  Menikmati view indah padang edelweis di Tegal Alun
15.00 – 17.30  Perjalanan turun ke Camp David
17.30 – 18.00  Tiba di Camp David dan Isho
18.00 – 18.30 Menuju Cisurupan
18.30 – .......    Pulang ke Bandung............

Lalu bagaimana dengan biaya?
Seperti judul yang tertera, ini Papandayan merupakan Liburan Murah tapi ga murahan.
Bensin Bandung – Garut 30 rebu,
Klo menggunakan kendaraan umum, dari terminal cicaheum/leuwipanjang bisa menggunaka elf jurusan cikajang dan langsung turun di alun-alun Cisurupan. Perkiraan ongkos PP 40 rebu.
Dari alun-alun Cisurupan sewa pick up utk rombongan + 250/8=30 rebuan perorang,
klo ngeteng itunganna 20 rebu sekali jalan, jadi PP 40 rebu.
Bayar tiket masuk 3.000 saja.
Jadi totalnya 63 rebu rupiah
Cat: makanan kami bawa masing-masing. 
           
Previous
Next Post »
Thanks for your comment