Meraih Puncak Gunung Guntur

Meraih Puncak Gunung Guntur

 
Ini adalah catatan perjalanan pertama kami semenjak lulus kuliah ke puncak gunung, meskipun pada saat SMA lalu kami juga sempat mengunjungi beberapa puncak di Garut. Sebagai ajang reuni untuk tetap menjaga komunikasi di antara kami, karena memang kami sudah sangat susah untuk bertemu semenjak lulus kuliah.
Oia perkenalkan sayan iyan, saya bersama dengan beberapa teman yang tergabung dalam Mavia yang terdiri dari sekelompok manusia yang gila bertualang diantaranya Jukut dan Erik sebetulnya anggota kami masih ada beberapa orang lagi cuman saya sengaja menyebutkan dua nama selain saya karena yang terlibat dalam pendakian kali ini baru mereka saja.
Gunung Guntur termasuk gunung merapi aktif yang berada  di wilayah Tarogong Garut. Gunung ini terlihat sangat mencolok terlihat menjulang tinggi dan seolah gersang di puncaknya, kita bisa melihat ke sebelah kanan perjalanan ketika melewati daerah Tarogong Garut.
Setelah banyak diskusi melalui sosmed, maka kami sepakat untuk melakukan reuni pendakian ke Gunung Guntur. Tapi sayang, dari sekian anggota Mavia, hanya 4 orang yang bisa meluangkan waktu untuk event ini, yaitu saya, Erik, Jukut dan Lutfi (ponakan Jukut yang sebetulnya sabtu itu masuk sekolah tapi sengaja ngambil libur, luar biasa pengorbanan ni anak, hheee.....)
 Kami sadar bahwa pendakian ini tidak akan berjalan mudah, karna kami sudah lama tidak melakukan pendakian dan sudah sangat jarang berolahraga. Maka suasana berdebar sebagai pengalaman pertama kami rasakan.

Sabtu 1 Maret 2014 adalah tanggal yang kami sepakati.
Jum’at adalah hari yang menyibukkan, karna harus menyelesaikan semua tugas agar Sabtu bisa ambil libur. Karna saya adalah satu-satunya anggota ang berasal dari Bandung, maka persiapanpun terasa lebih berat, jam 03.00 sudah bangun untuk prepare logistik dan makanan yang akan dibawa, saya juga mesti masak untuk sarapan, sudah menjadi kebiasaan saya untuk sarapan sebelum berangkat kemanapun.
Maka setelah solat subuh, tepatnya jam 5.30 menerobos gelap dan dinginnya udara pagi saya berangkat menggunakan motor kesayangan menuju daerah Garut. Perjalanan dilewati dengan santai, hingga jam 6.45 baru nyampai gerbang masuk Cipanas, tempat meeting point yang telah disepakati. Kayanya udah menjadi kebiasaan kita, klo orang yang deket itu suka menyepelekan waktu, setelah setengah jam lebih menunggu, baru tuh anak-anak pada nongol, setelah mereka melengkapi logistik, baru kita menuju ke tempat parkiran, yaitu di rumah paman saya yang tinggal di pertigaan desa pasawahan, yang merupakan jalur utama pendakian.

Setelah basa-basi dikit dengan keluarga paman, kamipun pamit dan jam 8.00 kami mulai perjalanan, trek yang kami lalui adalah jalur lalu lalangnya truk yang mengangkut pasir dari kawasan pertambangan Gunung Guntur, kita juga ga tau apa penggalian pasir ini legal atau engga, yang pasti proyek ini sudah sejak lama dikelola warga sekitar. Dan benar saja tak lama kami berjalan, ada sebuah truk di belakang kami, maka kami minta untuk numpang ke pertambangan, ternyata emang mang supirnya sangat baik, tanpa basa-basi, mang supir langsung mempersilakan kami untuk naik ke punggung truk.
Di tengah perjalanan kami bertemu dengan rombongan dari Bekasi ang juga ikut menumpang pada truk yang kami tumpangi. Perjalanan dengan truk ini kami lalui kurang lebih satu jam dengan melewati jalur yang lumayan ekstrim sehingga mengocok isi perut kami. Di akhir perjalanan ialah sebuah kawasan tambang pasir yang sudah menggerogoti kaki Gunung Guntur hingga memasuki kawasan curug citiis.
Dengan cap nuhun kami pamit berlalu untuk melanjutkan perjalanan, setelah 15 menit berjalan dengan melewati jalur tambang, lalu masuk hutan di aliran sungai yang menjadi jalur citiis, kamipun sampai di curug citiis yang terkenal itu.


Setelah istirahat sebentar d citiis, tepatnya 9.30 kami lanjutkan perjalanan disini perjalanan mulai terjal dengan melewati tanjakan berbatu yang memaksa lutut dan engkel kami berjuang ekstra untuk menaklukannya, setelah satu jam berjuang akhirnya tiba di vegetasi hutan yang lumayan rindang, keluar hutan terhamparlah padang ilalang yang tinggi, disini ada sumber air terakhir yang bisa kita ambil.
Perjalanan dilanjutkan dengan mengambil jalur menanjak dan berpasir, puncak Guntur terlihat sangat jelas menantang kami untuk segera sampai disana. Jalanan menanjak berpasir menambah berat ritme perjalanan kami kami harus hati-hati mengambil langkah, salah langkah bisa-bisa terpeleset jatuh.
Menjelang sore hari, rintik hujan mulai turun, disini ada kejadian menarik ketika hendak mengenakan jas hujan, ternyata datang angin yang sangat kencang dari arah lembah yang memaksa kami untuk tiarap karna kami takut terbawa oleh angin tersebut. Alhamdulillah angin tidak berjalan lama, dan kamipun melanjutkan perjalanan dengan berhujan-hujan ria, hee.....
Kami berjalan sangat lambat, karna ternyata kami lupa makan siang, tenaga tekuras tapi gada asupan makanan, ini menambah berat pendakian ini, hingga kaki ini terasa kram, untuk efektifitas maka Jukut dan Lutfi berjalan duluan menuju puncak untuk segera mendirikan tenda, sedangkan saya ditemani Erik mengatur ritme agar kram yang saya alami tidak bertambah parah.
Akhirnya tepat jam 18.00 saya dan Erik tiba di puncak Guntur, tantangan kami selanjutnya ialah menemukan tenda yang didirikan oleh Jukut dan lutfi, komunikasi kami terputus karna sudah gada sinyal, ditambah puncak yang berkabut sehingga menghalangi jarak pandang kami, yang bisa kami lakukan hanyalah mencari dengan insting dan berteiak-teriak dengan harapan mereka dapat mengenali suara kami, sekitar 10 menit kami saling mencari akhirnya kami menemukan mereka, bukan di lembah tempat kebanyakan orang mendirikan tenda, melainkan jalur kiri menuju puncak kedua.
Mungkin inilah pengalaman unik yang  takan pernah dilupakan, ibarat sebuah anomali, ketika suhu udara di luar sangat dingin, ternyata di dalam tenda suhunya terasa hangat, bahkan di dalam tenda kami tak perlu mengenakan jaket ataupun sleeping bag, saking hangatnya kami bisa mengeringkan pakaian basah yang tadi kami kenakan dengan meletakkannya di lantai tenda.
Setelah makan malam dan ngobrol2 menikmati indahnya malam di puncak Guntur, kamipun istirahat dengan kesepakatan ba’da subuh kami akan summit ke puncak utama. Waktu yag sudah disepakatipun tiba, kami prepare membawa barang yang dirasa dibutuhkan. Setelah berjalan + 45 menit kami sudah sampai di puncak Utama Gunung Guntur.


Disini bisa terlihat jelas Gunung Papandayan dan Puncak tertinggi Garut, yaitu Cikuray. Selain sensasi paling nikmat di puncak ialah ngopi sambil menikmati pagi, mantapp.....
Jam 7.00 kami turun ke tenda, dan masak utk sarapan, setelah beres-beres, 8.30 kami ucapkan pamit dan terima kasih yang tak terhingga pada Sang Pencipta yang telah menciptakan tempat yang begitu indah di kota kelahiran saya.


Erik, Saya dan Jukut.

Sorry Lutfi, gada di gambar karna dia kebagean tukang jeprat-jepret, hhee.....nasib junior.
Tantangan selanjutnya ialah bagaimana caranya turun?
Jalurnya menurun tajam, berpasir dan pasti licin, maka dengan sangat hati-hati kami mencoba mencari jalur turun, disini ada jalur pasir mirip dengan Mahameru, jadi bisa dilalui dengan meluncurkan kaki, tapi harus mengenakan sepatu supaya tak terasa sakit.
Setelah melalui perjalanan turun yang melelahkan, tepat jam 12.00 kami tiba di citiis, disini kmai bergabung dengan teman-teman pendaki dari jabodetabek.
Istirahat, mandi, makan dan solat menjadi agenda kami disini.


Setelah puas istirahat, jam 13.30 kami lanjut berjalan kaki menyusuri pertambangan, truk pasir sudah penuh muatan pasir dan batu sehingga ga menyisakan tempat buat manusia, kecuali mau numpang diatas pasir, hheee
Jam 15.00 kami tiba ti Desa Pananjung, tempat kami menitipkan motor d rumah pamn saya. Setelah istirahat dan pamit, kami pulang ke masing-masing tempat. Dan menjelang magrib saya sudah tiba di Bandung, rumah tercinta.

Berikut agenda ke Puncak Guntur dari Bandung:
Sabtu, 1 Maret 2014
03.00 – 05.30  Prepare, solat subuh, sarapan
05.30 – 06.45  Perjalanan Bandung – Garut pake motor
06.45 – 07.30  Nunggu teman di gerbang cipanas sambil melengkapi logistik
07.30 – 08.00  Ke rumah paman nitip motor
08.00 – 09.15  Perjalanan menuju pertambangan menggunakan truk
09.15 – 09.30  Menuju Citiis
09.30 – 18.00  Treking menuju puncak (lambat banget padahal normalnya cuman 6 jam)
18.00 – pagi    makan, menikmati suasana malam dan istirahat.

Minggu, 2 Maret 2014
04.00 – 05.00  Prepare Summit Attack
05.00 – 05.45  Summit
05.45 – 07.00  Menikmati indahna sunrise di Puncak Guntur
07.00 – 07.45  Balik ke camp
07.45 – 8.30    Sarapan dan beres-beres
08.30 – 12.00  Turun ke Citiis
12.00 – 13.30  istirahat di curug citiis
13.30 – 15.00  Perjalanan menuju rumah paman
15.00 - ........    pulang.................

Urusan biaya? Murah banget dah.....
Coba nih,
Bandung – Garut PP, Bensin motor Cuma 25 rebu
Kalaupun mau pake Bis dari Bandung ongkosnya juga murah + 30 rebu PP, udah itu turun langsung di Tanjung, pas Gapura selamat datang Kota Garut dan udah bisa mulai treking.
Gada retribusi, Cuma siapin logistik doank.
Beli makanan buat sehari semalem.
So.........gada yang perlu dikhawatirkan utk masalah anggaran.













Previous
Next Post »
Thanks for your comment