Pupuhunan di Pakenjeng - Warisan Budaya Garut

Warisan budaya yang kedua, yang di bahas di Paket Wisata Ngiuhan di Garut ini adalah Pupuhunan di Pakenjeng. Untuk melihat ulasan warisan budaya yang pertama Anda bisa baca postingan saya mengenai : Calung Jinjing Warisan Budaya Garut.

Pupuhunan di Pakenjeng

Pupuhunan di  Pakenjeng

 

Pupuhunan adalah ritual yang dilakukan saat menanam dan memanen padi. Pada ritual yang dimaksud ada beberapa lagi tahapan upacara dengan sebutan yang berbeda, diantaranya : 

Mitembeyan, yaitu kegiatan mulai menanam padi tempatnya di huluwotan (Lokasi sawah paling girang atau paling atas). Mitembeyan dilengkapi dengan sesajen - sesajen diantaranya ada : rujak kelapa, parupuyan atau tapas yang ditiir untuk tempat menyimpan menyan, setelah menyan dibakar, lalu ditancapkan pucuk bambu dan pucuk jambu, selanjutnya ditambah benih padi, biasanya 9 (sembilan) dapuran benih padi.

Adapun sebutan yang biasa meminpim upacara mitembeyan dimaksud adalah seorang candoli atau juru masak. Upacara mitembeyan ini masih sering dilaksanakan atau masih dipergunakan oleh sebagian masyarakat didaerah Talaga Wangi Kecamatan Pakenjeng Kabupaten Garut. 

Panen, adalah salah satu kegiatan memerik padi yang sangat di tunggu - tunggu oleh masyarakat petani. Sebelum panen tersebut dilaksanakan, ada beberapa tahapan yang dilaksanakan dan beberapa sesajen yang disiapkan. Jalannya panen dipimpin oleh seorang candoli, perlengkapan sesajennya diantaranya : Ada sangar isinya tumpeng (congcot) yang diatasnya diletakan telur yang ditusuk, ayam kampung yang telah direbus, ketupat, dupi, opak, wajit, disimpan dalam cecempeh (anyaman bambu, berbentuk lingkaran tanpa rongga).

Sangar disimpang di huluwotan, tempat awal menanam. Kemudian ada pucuk kurung, yaitu pucuk kawung atau aren, memakai tihang di ujung kawung yang mengerumbai digantungkan tektek ( paragi ngalemar) yang sudah diisi samara nyepah (jabug, gambir, apu). Candoli membacakan mantra untuk memanen padi. 

Selain sesajen diatas, ada juga sesajen yang disebut Nyokok yaitu sesajen berupa tiga potong daging mentah yang disimpan di goah/ pabeasan atau tempat menyimpan padi/beras. Candoli berkeliling, mengitari sawah sambil membaca mantra. Sejak candoli berangkat dari rumah, candoli diikuti oleh sekelompok anak kecil yang akan mengikuti kemanapun candoli pergi. Anak - anak tersebut nantinya akan mencuri sesajen yang disediakan di sawah setelah candoli selesai membacakan mantera - mantera. 

Apabila sesajen habis oleh anak - anak, konon katanya panennya akan berhasil. Hal itu yang merupakan simbolis bahwa kita tidak boleh melupakan kepada masyarakat kecil. Sebelum memulai panen, sabuku atau 20 tangkai padi ikat di bawa ke rumah nantinya disatukan dengan pare indung, tapi ada tektekan ada juga yang disatukan dengan pare indung. Ada juga yang diselipkan di bilik.
Previous
Next Post »
Thanks for your comment