Seni Degung Kecamatan Limbangan - Warisan Budaya Garut

Paket Wisata Ngiuhan di Garut kembali ingin memberikan Anda informasi seputar warisan budaya Garut yang mungkin untuk saat ini masih dikenal oleh seluruh masyarakat kota Garut. Warisan budaya ini seharusnya terus dilestarikan keberadaanya oleh masyarakat Garut sehingga dapat menjadi pembanding dari kota lain di Indonesia. 

Seni Degung di Kecamatan Limbangan


Degung Instrumen Sunda

Perkembangan Seni Degung di beberapa grup yang ada di Kecamatan Limbangan kondisinya cukup memprihatinkan, kata peribahasa Sunda "Hirup teu neut paeh teu hos" hal itu dikarenakan perkembangan jaman yang serba praktis dan ekonomis. Kesenian sekarang dihadapkan dengan era globalisasi yang semakin gencar masuk di berbagai kehidupan, termasuk banyak sekali pengaruh luar yang masuk kedalam kehidupan seni dan budaya. 

Kondisi tersebut berdampak pada pergeseran nilai - nilai budaya kita termasuk budaya di tatar Sunda. Namun kami berhasil mewawancarai beberapa Seniman dan Budayawan di Kecamatan Limbangan yang mengetahui asal mula dan perkembangan seni degung yang tersebar di Jawa Barat. Pada mulanya degung adalah semacam waditra pukul (Instrumen Perkusi) berbentuk 6 buah gong kecil, biasanya digantungkan secara berderet pada sebuah gantungan yang disebut ancak/rancak. Sekarang waditra ini dijadikan nama perangkat waditra yang disebut Degung. 

Dahulu Gamelan Degung hanya dipergunakan dalam lingkungan Bangsawan tinggi saja. Pada waktu itu Bupati Bandung R.A.A Wiranatakusuma adalah salah seorang pejabat yang sangat menggemari Degung, bahkan beliau sempat mendokumentasikannya dalam bentuk rekaman suara. Salah satu lagu yang direkam dari Gamelan Degung miliknya, dipergunakan RRI Studio Bandung pada awal pembacaan berita daerah. 

Karena digemari oleh Ratu Agung (Bupati atau Panganggung), hal ini menimbulkan anggapan sementara orang bahwa kata Degung berasal dari kata Ratu Agung atau Tumenggung, yaitu salah satu gelar Bupati zaman dahulu. Ada pula yang menyebutkan dari kata "Deg Ngadeg Kanu Agung" Artinya kita harus senantiasa menghadap (beribadah) Kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam bahasa Sunda, terdaspat kata-kata yang berakhiran gung yang artinya : menunjukan tempat tinggi yang terhormat seperti : Manggung, Agung, Tumenggung, dsb. Oleh sebab itu maka Degung memberi gambaran kepada orang sunda sebagai sesuatu yang Agung dan yang terhormat yang digemari oleh Pangagung. 

Perkembangan Degung 


Gamelan Degung merupakan kesenian khas Pasundan. Tentang dimana timbulnya dan siapa penciptanya sampai saat ini belum ada keterangan yang jelas. Pada zaman penjajahan Belanda sekitar tahun dua puluhan, diseluruh Kabupaten Bandung hanya terdapat 5 perangkat degung yang diantaranya milik R.A.A. Wiranatakusuma. Di Kabupaten-kabupaten lain terdapat di Sumedang 7 perangkat, di Cianjur 5 perangkat dan di Tasikmalaya  2 perangkat. 

Semula susunan Waditra pada Gamelan Degung masih sangat sederhana, yaitu : Bonang, Goong dan Jenglong. Reportoarnya masih sangat terbatas pula antara lain tercatat : Galatik Manggut dan Ayun Ambing. 

Pada masa pemerintaha R.A.A Wiranatakusuma sebagai bupati Bandung yang kedua kalinya serta dikalangan rakyat Bandung dikenal dengan julukan "Dalem Haji" Susunan waditra Gamelan Degung dilengkapi dengan suling, kendang dan peking. Hal ini atas usaha Abah Iyam bersama putra - putranya, yaitu  : Abah Idi, Abah Oyo, Abah Atma. Adapun pata Wiyaga (penabuh) Gamelan Degung yang sudah dikenal sebelum adanya penambahan waditra tersebut antaralain : Abah Dira, Abah Muhadi, Abah Emad, Abah Asmadi, Abah Emus, Abah Darma, Abah Asma, Abah Andut, Abah Adikarta, Abah Sutarma Adis dan Abah Emung. Di Tasikmalaya pimpinan Gamelan Degung Kabupaten pada waktu itu konon  bernama Abah Iwi dan di Cianjur bernama Abah Ahim. 

Adapun para penyanggi (pencipta) lagu - lagu degung klasik ialah : 
  1. Abah Idi (Ujung Laut, Manggari, Duda, Sangkuratu, Bima Mobos, Karang Mantri, Prawa, Galatik Manggut) 
  2. Ukin Sukri (Karang Ulun).
  3. Ono Sukarna (Bale Ngambang)
  4. U. Tarya (Seler Degung)
  5. Sulaeman Sutisna (Walasungsang)
  6. A. Absar (Lutung Bingung).
  7. Entjar Tjarmedi (Pajajaran, LEngser Midang, Lambang, Parahyangan, Pulo Sari, Purbasaka) 
Popularitas Gamelan Degung semakin meningkat setelah Gamelan Degung dapat dipergunakan untuk mengiringi tari. Hal ini dibuktikan pada waktu pementasan Gending Karesmen Munding Laya Saba Langit yang diselenggarakan pada tahun 1970 di bawah pimpinan M. Sewaka dengan penata Gending Bapak Entjar Tjarmedi. 

Gamelan Degung dapat dipergunakan sebagai pengiring Tarian, maka kelengkapan waditranya dilengkapi dengan beberapa waditra diantaranya : Rebab, Gambang, 2 bilah Saron Barung, Penerus, Kulanter dan KEmpul. Gamelan Degung milik Bapak M. Sewaka yang diberi nama "Si Rawit" masih terpelihara dan disimpan di STSI Bandung. 

Perlu dicatat bahwa Gamelan Degung telah memberikan ciri tersendiri bagi Sendra tari Ramayana versi Sunda yang diikut sertakan dalam festival Sendratari Ramayana tingkat Nasional 1970 di Yogyakarta dan Festival Sendratari Ramayana tingkat Internasional 1971 di Pandaan Jawa Timur. 

Perkembangan teknologi medern saat ini, baik visual, audio maupun media cetak memungkinkan tergesernya keberadaan Gamelan Degung dari masyarakat sunda. Hal ini disebabkan kurangnya sumber bahan mengenai Gamelan Degung yang dapat dipelajari oleh masyarakat. 

Waditra Gamelan Degung 


Gamelan Degung sekarang sebenarnya telah mengalami perkembangan jaman, kalau dahulu waditranya terdiri dari :
  1. Bonang
  2. Jenglong dan 
  3. Goong
Kemudian dilengkapi dengan waditra :
  1. Peking 
  2. Penerus
  3. Suling 
  4. Kendang 
  5. Rebab
  6. Kecapi
Previous
Next Post »
Thanks for your comment